I.PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang

Penggunaan plastik sudah semakin populer, termasuk
sebagai wadah atau kemasan untuk pangan yang akan dipanaskan bersama-sama
kemasannya. Perubahan cara (kebiasaan) masak masyarakat saat ini.menyebabkan
berkembangnya berbagai jenis produk yang dimasak (dipanaskan) bersama-sama
dengan kemasannya di dalam oven microwave. Seiring dengan perkembangan
kebiasaan baru tersebut, berkembang pula berbagai jenis kemasan untuk tujuan
pemasakan langsung dalam oven microwave, termasuk yang terbuat dari bahan
plastik. Telah diketahui bahwa plastik bukanlah material yang bersifat inert
dan residu monomer serta aditif lain yang digunakan dalam pembuatan suatu
polimer plastik bisa bermigrasi ke dalam pangan yang dikemas. Dekomposisi dan
migrasi komponen plastik dapat berlangsung cepat dengan meningkatnya suhu.
Meskipun
istilah plastik dan polimer seringkali dipakai secara sinonim, namun tidak
berarti semua polimer adalah plastik. Plastik merupakan polimer yang dapat
dicetak menjadi berbagai bentuk yang berbeda. Umumnya setelah suatu polimer
plastik terbentuk, polimer tersebut dipanaskan secukupnya hingga menjadi cair
dan dapat dituangkan ke dalam cetakan. Setelah penuangan, plastik akan mengeras
jika plastik dibiarkan mendingin.
1.2 TUJUAN
a.
Untuk mengetahui plastik besrta
jenis-jenisnya.
b.
Untuk mengetahui migrasi dan dampak
migrasi.
c.
Untuk mengetahui tata cara pemilihan
jenis plastik yang aman.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Plastik
adalah polimer rantai-panjang dari atom yang mengikat satu sama lain.
Rantai
ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Istilah
plastik
mencakup
produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik, namun ada beberapa
polimer
alami yang termasuk plastik. Plastik terbentuk dari kondensasi organik atau
penambahan
polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa
atau
ekonomi (Azizah, 2013).
Ratusan juta ton plastik yang
digunakan di bumi ini, maka ratusan juta ton
juga
sampah plastik yang dihasilkan dan menjadi polutan utama dunia. Karena bahan
dasar
plastik adalah phthalate ester, di(ethylhexyl) phthalate (DEHP)
yang bersifat
stabil,
sukar diuraikan oleh mikroorganisme sehingga kita terus-menerus memerlukan
area
untuk pembuangan sampah. Pada makanan yang dikemas dalam bungkus plastik,
adanya
migrasi zat-zat monomer dari bahan plastik ke dalam makanan, terutama jika
makanan
tersebut tak cocok dengan kemasan atau wadah penyimpannya yang tidak
mungkin
dapat dicegah 100% (terutama jika plastik yang digunakan tak cocok
dengan
jenis makanannya). Migrasi monomer terjadi karena dipengaruhi oleh suhu
makanan
atau penyimpanan dan (Koswara S, 2006)
Seiring dengan meningkatnya
kesadaran untuk pelestarian lingkungan,
kebutuhan
bahan plastik biodegradabel mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada
tahun 2010, diproyeksikan produksi plastik biodegradabel akan mencapai
1.200.000
ton atau menjadi 1/ 10 dari total produksi bahan plastik. Industri plastik
biodegradabel
akan berkembang menjadi industri besar di masa yang akan datang
(Pranamuda
H, 1993)
Sampah
plastik yang berada dalam tanah yang tidak dapat diuraikan oleh
mikroorganisme
menyebabkan mineral-mineral dalam tanah baik organik maupun
anorganik
semakin berkurang, hal ini menyebabkan jarangnya fauna tanah, seperti
cacing
dan mikorganisme tanah, yang hidup pada area tanah tersebut, dikarenakan
sulitnya
untuk memperoleh makanan dan berlindung. Selain itu kadar O2 dalam tanah
semakin
sedikit, sehingga fauna tanah sulit untuk bernafas dan akhirnya mati. Ini
berdampak
langsung pada tumbuhan yang hidup pada area tersebut. Tumbuhan
membutuhkan
mikroorganisme tanah sebagai perantara dalam kelangsungan
hidupnya
(Ahmann D dan Dorgan J R, 2007).
III.PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Plastik
Plastik
adalah suatu polimer yang mempunyai sifat-sifat unik dan luar biasa.
Plastik adalah polimer
rantai-panjang dari atom yang mengikat satu sama lain. Polimer adalah suatu bahan yang terdiri dari unit molekul
yang disebut monomer. Rantai ini membentuk
banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Istilah plastik
mencakup
produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik, namun ada beberapa
polimer alami yang termasuk
plastik.
3.2 Jenis-Jenis
Plastik
Beberapa
contoh plastik yang banyak digunakan antara lain polietilen, poli(vinil
klorida), polipropilen, polistiren, poli(metil pentena), poli
(tetrafluoroetilen) atau teflon.
1. Polietilen
Poli etilen adalah bahan termoplastik yang kuat
dan dapat dibuat dari yang lunak sampai yang kaku. Ada dua jenis polietilen
yaitu polietilen densitas rendah (low-density polyethylene / LDPE) dan
polietilen densitas tinggi (high-density polyethylene / HDPE).
Polietilen densitas rendah relatif lemas dan kuat, digunakan antara lain untuk
pembuatan kantong kemas, tas, botol, industri bangunan, dan lain-lain.
Polietilen densitas tinggi sifatnya lebih keras, kurang transparan dan
tahan panas sampai suhu 1000C. Campuran polietilen densitas rendah
dan polietilen densitas tinggi dapat digunakan sebagai bahan pengganti karat,
mainan anak-anak, dan lain-lain.
2. Polipropilen
Polipropilen mempunyai sifat sangat kaku; berat
jenis rendah; tahan terhadap bahan kimia, asam, basa, tahan terhadap panas, dan
tidak mudah retak. Plastik polipropilen digunakan untuk membuat alat-alat rumah
sakit, komponen mesin cuci, komponen mobil, pembungkus tekstil, botol,
permadani, tali plastik, serta bahan pembuat karung.
3. Polistirena
Polistiren adalah jenis plastik termoplast yang
termurah dan paling berguna serta bersifat jernih, keras, halus, mengkilap,
dapat diperoleh dalam berbagai warna, dan secara kimia tidak reaktif. Busa
polistirena digunakan untuk membuat gelas dan kotak tempat makanan, polistirena
juga digunakan untuk peralatan medis, mainan, alat olah raga, sikat gigi, dan
lainnya.
4. Polivinil klorida (PVC)
Plastik jenis ini mempunyai sifat keras, kuat,
tahan terhadap bahan kimia, dan dapat diperoleh dalam berbagai warna. Jenis
plastik ini dapat dibuat dari yang keras sampai yang kaku keras. Banyak barang
yang dahulu dapat dibuat dari karet sekarang dibuat dari PVC. Penggunaan PVC
terutama untuk membuat jas hujan, kantong kemas, isolator kabel listrik, ubin
lantai, piringan hitam, fiber, kulit imitasi untuk dompet, dan pembalut kabel.
5. Potetrafluoroetilena
(teflon)
Teflon memiliki daya tahan kimia dan daya tahan
panas yang tinggi (sampai 2600C) Keistimewaan teflon adalah sifatnya
yang licin dan bahan lain tidak melekat padanya. Penggorengan yang dilapisi
teflon dapat dipakai untuk menggoreng telur tanpa minyak.
6. Polimetil pentena (PMP)
Plastik poli metil pentena adalah plastik yang
ringan dan melebur pada suhu 2400C. Barang yang dibuat dari PMP bentuknya
tidak berubah bila dipanaskan sampai 2000C dan daya tahannya
terhadap benturan lebih tinggi dari barang yang dibuat dari polistiren.
Bahan ini tahan terhadap zat-zat kimia yang korosif dan tahan terhadap
pelarut organik, kecuali pelarut organik yang mengandung klor, misalnya
kloroform dan karbon tetraklorida. PMP cocok untuk membuat alatalat
laboratorium dan kedokteran yang tahan panas dan tekanan, tanpa mengalami
perubahan, Barang-barang dari bahan ini tahan lama.
3.3
Migrasi Dan Dampaknya Terhadap Pangan
Migrasi
merupakan perpindahan bahan kimia baik itu polimer, monomer, ataupun
katalisator kemasan (contoh formalin dari kemasan/wadah melamin) kedalam
pangan. Migrasi bahan kimia tersebut memberikan dampak berupa penurunan
kualitas pangan dan keamanan pangan, juga menimbulkan efek terhadap kesehatan.
Jumlah senyawa termigrasi pada umumnya tidak diketahui secara pasti, tetapi
dapat berpengaruh fatal terutama pada jangka panjang (bersifat kumulatif dan
karsinogenik). Faktor yang mempengaruhi migrasi adalah jenis serta konsentrasi
bahan kimia yang terkandung, sifat dan komposisi pangan, suhu dan lama kontak
serta kualitas bahan kemasan (jika bahan bersifat inert atau tidak mudah
bereaksi maka potensi migrasinya kecil dan demikian pula sebaliknya)
3.4 Kriteria Dalam
Pemilihan Kemasan
Sejumlah kriteria yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan kemasan pangan antara lain adalah: Sifat bahan
kimia pangan serta stabilitasnya dalam hal komposisi kimia, biokimia,
mikrobiologi, kemungkinan reaksi dan kecepatan reaksi terhadap bahan kemasan,
pengaruhnya dengan suhu dan waktu. Sifat bahan kimia pengemas,
kompatibilitasnya harus dinilai secara seksama. Apakah bahan kimia tersebut
mudah termigrasi, misalnya pangan dengan kadar lemak tinggi atau pangan bersuhu
tinggi, tidak boleh dikemas dengan plastik yang dapat berpeluang melepaskan
monomer yang bersifat karsinogenik kedalam pangan, serta evaluasi terhadap
pengaruh suhu dan waktu kontak terhadap komposisi yang dikandung pengemas.
Evaluasi terhadap faktor lingkungan ini diperlukan karena mengingat migrasi
bahan toksik sangat dipengaruhi suhu, lama kontak dan jenis senyawa toksik
dalam kemasan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengemasan adalah :
a.
Sesuai derajat asam basanya (pH)
Pangan memiliki kadar asam basa
yang beragam. Ada pangan yang bersifat asam, netral dan ada pula yang basa.
Pangan yang bersifat asam sebaiknya tidak dikemas dalam kemasan yang terbuat
dari logam. Sedangkan pangan yang bersifat netral lebih banyak memiliki
kecocokan dengan banyak jenis bahan pengemas.
b.
Suhu saat pengemasan dan penyimpanan.
Pengemasan pangan ada yang
dilakukan pada saat pangan bersuhu tinggi (diatas 60oC), suhu kamar, ataupun
suhu rendah. Pengemasan pangan pada suhu tinggi, ataupun penyimpanan pangan
terkemas pada suhu tinggi dapat meningkatkan migrasi bahan kimia toksik,
misalnya formaldehid dari kemasan melamin dapat bermigrasi kedalam pangan pada
suhu tinggi.
c.
Kandungan bahan kimia dominan
Bahan kimia yang
dominan dalam pangan dapat berupa protein, lemak/minyak, garam dan sebagainya.
Pemilihan kemasan sebaiknya disesuaikan dengan kandungan bahan kimia pada
pangan. Sebaiknya kemasan yang dipilih adalah yang tidak bereaksi dengan bahan
kimia pada pangan. Sebagai contoh: Pangan berkadar garam tinggi, akan dapat
mendegradasi kemasan logam.
3.5 Tips Memilih Kemasan Yang
Aman
a)
Utamakan menggunakan
kemasan yang terbuat dari kaca/gelas atau keramik.
b) Jika
menggunakan kemasan plastik, pilih yang mencantumkan kode daur ulang.
c) Pilih
kemasan yang mencantumkan tulisan aman (food safe/for food use/food grade)
untuk makanan atau logo gelas dan garpu
d) Pilih
kemasan yang warnanya tidak mencolok.
e) Ikuti petunjuk pemakaian yang disarankan oleh
produsennya.
f) Pilih
kemasan yang mencantumkan identitas produsen.
g) Tidak
terkecoh dengan harga yang murah, utamakan menggunakan kemasan pangan yang
terbuat dari kaca dan keramik, termasuk tembikar/gerabah.
h) Jangan sekali-kali menggunakan kantong plastik
kresek berwarna hitam untuk mewadahi langsung makanan siap santap.
i)
Sebaiknya mengurangi penggunaan kemasan pangan
yang terbuat dari plastik PVC untuk makanan berminyak/berlemak atau mengandung
alkahol terlebih dalam keadaan panas.
j)
Jangan menggunakan kemasan pangan plastik
dalam microwave kecuali atas anjuran produsen. (jenis plastik polipropilen/PP
cocok digunakan untuk microwave).
k) Jangan
menggunakan kemasan pangan yang rusak atau berubah bentuk untuk mewadahi
makanan berminyak/berlemak apalagi dalam keadaan panas.
l)
Hindari penggunaan
plastik untuk membuat/merebus makanan seperti ketupat.
m) Jangan
merebus botol susu untuk sterilisasi, sebaiknya direndam saja dalam air
mendidih.
n)
Jangan membakar plastik
terutama PVC karena berpotensi melepaskan dioksin yang berbahaya bagi kesehatan
dan lingkungan.
IV.PENUTUP
4.1
Kesimpulan
a.
Plastik merupakan
polimer rantai panjang dari atom yang mengikat satu sama lain. Jenis-jenis
plastik yaitu :Polietilen, Polipropilen, Polistirena, Polivinil klorida (PVC), Potetrafluoroetilena (teflon) dan Polimetil pentena
(PMP).
b.
Migrasi adalah
perpindahan bahan kimia baik itu polimer, monomer, ataupun katalisator kemasan
(contoh formalin dari kemasan/wadah melamin) kedalam pangan. Migrasi bahan
kimia tersebut memberikan dampak berupa penurunan kualitas pangan dan keamanan
pangan, juga menimbulkan efek terhadap kesehatan.
c.
Memilih kemasan Sebaiknya mengurangi
penggunaan kemasan pangan yang terbuat dari plastik PVC untuk makanan
berminyak/berlemak atau mengandung alkahol terlebih dalam keadaan panas.
Daftar Pustaka
Ahmann
D dan Dorgan J R. 2007.plastik. Departemen Pertanian. Badan Litbang Pertanian.
Azizah.2013.[online]. plastik. http://id.wikipedia.org/wiki/Plastik .
[Di akes pada tanggal 21 september 2013].
Koswara
S. 2006 .material plastik. Prosiding Forum komunikasi
Ilmiah
Komoditas. Bogor, 5-6 Maret 1996. Hal. 63-68.
Pranamuda H.1993. Kegunaan Plastik. Jurnal
Penelitian & Pengembangan
Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Vol. XIII, Nomor 3.